Cemas

Pada saat-saat yang cemas, orang-orang yang percaya akan kebenaran satu ide, orang-orang yang beriman kepada satu ajaran, menghendaki kemur nian. Mereka akan berdiri di tepi jalan yang riuh dan melihat dunia campur-aduk. Mereka akan menduga banyak najis, dosa, kepalsuan, dan hipokrisi berseliweran. Ketika rasa cemas makin akut, mereka memutuskan: harus ada penolakan, kalau perlu ”pengkafran”, kalau perlu paksaan, agar yang najis habis dan dunia jadi murni. Tapi lambat-laun mereka akan tahu, kemurnian tak mudah diperoleh, tak kunjung tercapai. Di jalan yang terentang itu— dalam proses kehidupan itu—akan selamanya melintas orang baru atau lama, yang jangan-jangan (menurut kaum pencemas) berbaur lumpur, tahi, atau mani, atau dikotori hasrat yang jorok, aliran sesat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *