Cerita Unik Karya Ikonik Bag2

Itu sebabnya ia pun memasang patung Rama Memanah di pelataran Gelora Bung Karno, yang menjadi arena utama Asian Games. Sekarang soal lukisan Nyonya Tjio (1955), 86 x 65 cm, karya Trubus Sudarsono. Trubus (1926–1966) dikenali Sukarno pertama kali di sanggar Pelukis Rakyat pimpinan Hendra Gunawan di Yogyakarta. Namun kedekatan Sukarno dengan karya Trubus tumbuh di studio seni lukis Tjio Tek Djien, yang terletak di Jalan Tjideng, Jakarta.

Lukisan Nyonya Tjio memang menggambarkan istri Tjio Tek Djien, lelaki yang dikenal sebagai penghimpun pelukis serta artisan pada 1950-an. Menurut Dullah, pelukis Istana Presiden Sukarno pada 1950–1960, pakaian kebaya yang dikenakan Nyonya Tjio adalah permintaan Sukarno. “Kebaya akan mempercantik sosoknya. Het gezicht opmaken. Sexy!” kata Sukarno. Daoed Joesoef, mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, menyimpan riwayat unik Trubus. “Ia melukis wanita cantik karena disuruh. Sebelumnya, seperti Rustamadji, ia lebih suka melukis kurungan ayam.” Trubus“ditemukan” oleh Daoed pada 1947 sebagai pemberi makan kuda dokar.

Hasratnya pada seni lukis mendorong Daoed menggeretnya menjadi anggota sanggar Seniman Indonesia Muda (SIM). Meski kemudian Trubus bergabung di sanggar Pelukis Rakyat. Lantaran di Yogyakarta susah mencari uang, Trubus menyelip di studio Tjio Tik Djien di Jakarta. Di sini ia bertugas membuat lukisan apa saja, bahkan melukis ulang lukisan seniman terkenal seperti Romualdo Locatelli, dengan upah Rp 1.000 per hari. Di sinilah ia melukis Nyonya Tjio. Di Jakarta, ia semakin didekati oleh Lekra. Ketika diajak bergabung, Trubus tak menolak. Pada 1966, ia dikabarkan tewas dalam perburuan politik. Namun lantaran jenazahnya tak ditemukan, hilangnya Trubus dianggap misterius. Bahkan, ada kabar Trubus masih hidup sampai 1980- an dan sekali waktu sempat menemui Affandi dan Nasjah Djamin pada suatu gelap malam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *