Demam Lada Dipicu Harga Bag2

Menurut Bulletin Harga Mingguan, yang dirilis Komunitas Lada Internasional (IPC), lada hitam di tingkat produsen dihargai US$ 5.650-5.900 per ton. Adapun lada putih dibanderol US$ 9.250-9.350 per ton. Di tingkat eksportir, harga lada melonjak. Lada hitam dibanderol US$ 7.200 per ton dan lada putih US$ 10.800 per ton. Harga lada asal Indonesia di bursa komoditas New York, Amerika Serikat, dipatok US$ 11.690 per ton. Harga yang menggiurkan ini memicu petani melirik lada.

Apalagi sejak harga komoditas lain, terutama kelapa sawit dan karet, nyungsep. ”Yang paling banyak bermigrasi ke lada adalah petani singkong,” kata Mohammad Thoriq, Ketua Asosiasi Rempah Indonesia. Harga singkong sekarang hanya Rp 400-700 per kilogram—terjun bebas dari tahun lalu Rp 1.100-1.500 per kilogram. Pemilik PT Nusa Agro Lestari itu menyebutkan peluang agrobisnis lada terbuka lebar. Sebab, kesenjangan permintaan dan penawaran di pasar dunia masih sangat lebar.

”Pasarnya tidak terbatas,” ujar Thoriq. ”Berapa pun pasokan kita, pasti habis diborong.” Thoriq, yang sebelumnya hanya melakukan jual-beli rempah, sekarang ikut menanam lada. Karena itu, Nusa Agro mengembangkan pola kemitraan dengan petani. Mereka melakukan pembinaan, menyediakan bibit, hingga memberi jaminan pembelian hasil panen.

Lahan kritis seluas 40-50 hektare milik Sultan Ground di Kulon Progo, Yogyakarta, disulap menjadi kebun lada. Nusa Agro juga berencana menanam lada di Provinsi Jambi. Di Jambi dan Yogyakarta, Nusa Agro Lestari juga akan mengembangkan cabai jamu dan kemukus. Menurut Thoriq, budi daya cabai jamu dan kemukus juga sedang naik daun. Selain untuk kebutuhan bumbu dapur, buah tanaman merambat ini digemari industri jamu dan farmasi. Thoriq mengatakan bisnis lada sangat fleksibel.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *