Demam Lada Dipicu Harga

Yogi Dwi Sungkowo terke jut dengan melonjaknya permintaan bibit lada. Satu tahun terakhir, pemesan an bibit naik hingga 30 persen. ”Tahun ini kami kirim sampai 100 ribu polybag,” kata Ketua Kelompok Petani Lada Desa Kedarpan, Purbalingga, Jawa Tengah, itu, Kamis pekan lalu. Bibit-bibit berumur 2,5-3 bulan itu untuk memenuhi pesanan dari berbagai daerah, antara lain Bengkulu, Aceh, dan Kalimantan Timur.

Akhir tahun ini, Yogi masih sempat melakukan dua kali pengiriman ke Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur. Daerah-daerah itu, menurut dia, baru memulai pengembangan budi daya lada. Tak hanya dari luar daerah, permintaan juga datang dari petani Purbalingga. Mereka adalah pemilik lahan sempit dengan luas di bawah setengah hektare.

Itu sebabnya, dalam dua tahun terakhir, luas lahan lada di kabupaten yang diapit Gunung Slamet dan Dataran Tinggi Dieng tersebut bertambah menjadi 350 hektare. ”Padahal dulu lada hanya tanaman sela. Sekarang mereka sudah menanam intensif,” ujar Yogi, yang juga Ketua Asosiasi Petani Lada Purbalingga. Menurut peneliti senior di Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Kementerian Pertanian, Dyah Manohara, bisnis lada tengah naik daun.

Akibatnya, banyak daerah yang selama ini tidak dikenal sebagai penghasil rempah kini ikut menanam lada. Salah satu alasan petani menanam lada adalah kenaikan harga lada dalam dua-tiga tahun terakhir sangat tinggi. Tahun lalu, harga lada putih mencapai Rp 175 ribu per kilogram dan lada hitam Rp 140 ribu per kilogram. Itu harga dari petani. Meski sekarang berada di kisaran Rp 110-115 ribu, harga ini sudah jauh lebih mahal dibanding tahun-tahun sebelumnya, yang stabil di harga Rp 70-80 ribu per kilogram.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *