Gagal Paham Instruksi Sederhana Bag2

“Nak, jalannya pelan-pelan saja. Nanti kamu bisajatuh,” atau, “Nak, berjalan saja, lantainya  masih licin. Nanti kamu bisa jatuh kalau berlari,” daripada, memakai “Jangan lari, Nak.” Banyak orangtua mungkin tak menyadari, melarang jauh lebih singkat daripada memberikan penjelasan, sehingga mereka kerap lebih mudah menyuarakan larangan meskipun cenderung dilanggar oleh anak.

Baca juga : Beasiswa s2 Jerman

Di sinilah tantangan yang tidak ada habisnya ketika berperan menjadi orangtua. BELAJAR MEMAHAMI INSTRUKSI Jika Mama Papa merasa si kecil mungkin belum memahami instruksi, cobalah mengajarinya perlahanlahan. Seperti kisah Mira tadi, disuruh menutup pintu, kok, malah membuka pintu? Maka, dekatilah si kecil dan ajak ia memegang daun pintu. Saat Mama berkata “tutup”, tempatkan tangan si kecil di daun pintu dan ajari ia mendorong pintu hingga tertutup. Lalu saat Mama berkata “buka”, tempatkan tangan si kecil di tepi daun pintu dan ajari ia menariknya sehingga terbuka.

Kita dapat mengulangi kegiatan ini beberapa kali sampai si kecil dapat membedakan instruksi menutup dan membuka pintu. Tentu, pada usia ini anak tidak belajar membuka pintu dari kondisi benarbenar tertutup karena secara fisik ia mungkin belum mampu menjangkau pegangan pintu. Anak juga perlu diajarkan memegang di tempat yang aman sehingga jarinya tidak terjepit. Nurul juga menekankan supaya kita membimbing anak untuk mendengarkan, dengan memintanya untuk melihat ke lawan bicara, pada waktu mereka memberikan instruksi atau memberikan permintaan. Jangan biarkan mereka malah berlarian pad waktu Papa Mama mengajaknya bicara.

Ajaklah si kecil untuk duduk di samping kita sewaktu menyampaikan permintaan. Jika ia terus saja berlari-lari, kita bisa menghentikannya sambil memeluk dan berkata, “Dengarkan dulu, ya, Nak. Mama mau kamu cuci tangan terlebih dahulu sebab tanganmu berdebu. Lihat, nih. Nanti kamu bisa sakit.” Dengan cara ini kita sekaligus mengajarkan cara berkomunikasi yang baik. Kemampuan memahami instruksi bukannya tak penting, lo. Menurut para ahli, ketika anak mampu memahami instruksi, berarti ia juga mampu mendengarkan orang lain dan tidak tergesa-gesa melakukan sesuatu. Nurul menambahkan, “Anak yang telah memahami instruksi berarti ia telah mampu mengikuti figur otoritas. Hal ini menunjukkan bahwa anak dapat diarahkan.”

Sumber : https://ausbildung.co.id/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *