Pikirkan Kontrasepsi

Idealnya, usai melahirkan bayi, Mama ingin fokus mengasuh serta menyusuinya hingga 2 tahun. Tentunya tanpa dibayang-bayangi rasa khawatir kebobolan. Salah satu cara Mama dapat mengatur jarak kelahiran apalagi kalau bukan dengan kontrasepsi. Kontrasepsi memang berguna demi mencegah kehamilan yang tak direncanakan. Bagaimanapun kehamilan harus disiapkan dengan matang, bukan? Saat ini, kontrasepsi juga digunakan sebagai salah satu cara meningkatkan keselamatan ibu dan bayi dengan cara mengatur jarak kelahiran.

Baca juga : Tes Toefl Jakarta

Yang kerap menjadi pertanyaan, kapan sih waktu paling tepat untuk ber-KB setelah Mama bersalin? Ternyata sesegera mungkin. Pemakaian alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR/IUD), misal, dapat dilakukan segera setelah proses persalinan atau dalam waktu 48 jam pascapersalinan. Bagaimana dengan menyusui, apakah bisa dijadikan cara ber-KB? Bisa. Sebenarnya dengan menyusui buah hati, Mama telah menggunakan salah satu metode KB sederhana (non-hormonal) yang disebut amenore laktasi. Teorinya, pada perempuan pascamelahirkan kemungkinan untuk hamil kembali sebenarnya lebih kecil apabila mereka terus menyusui bayinya.

Hal ini terkait dengan adanya peningkatan kadar hormon prolaktin saat masa menyusui/laktasi. Hormon prolaktin yang meningkat akan mencegah terjadinya ovulasi dan memperlama masa tidak datangnya haid/menstruasi pascamelahirkan (amenorea postpartum). Tapi mengapa Mama Nova Andriana dan Mama Ira Julia Sinaga tak sukses? Tentu agar metode KB ini berhasil, ada beberapa rambu yang harus Mama patuhi. Mama menyusui. Salah satunya, sangat disarankan agar memberikan ASI-nya secara eksklusif sedikitnya 8 kali sehari, yaitu setiap 2—3 jam walaupun di malam hari.

Pada situs bkkn.go.id disebutkan metode ini cukup efektif untuk mencegah kehamilan setidaknya hingga 6 bulan. Namun, pada beberapa mama, ovulasi kadang terjadi sebelum menstruasi pertama pasca-persalinan terjadi. Jadi kemungkinan gagal memang tetap ada.

Masih Kurang Populer

Masih ada beberapa metode KB sederhana seperti diafragma (non-hormonal), namun alat KB ini masih belum begitu populer. Diafragma merupakan kondom yang digunakan pada perempuan. Para mama juga dapat menggunakan cream jelly atau tablet nerbusa (non-hormonal) untuk ber-KB. Alat KB ini dimasukkan ke dalam liang vagina 10 menit sebelum melakukan hubungan intim. Tujuannya untuk menghambat gerakan sel sperma atau dapat juga membunuhnya.

Sumber : pascal-edu.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *